Kepribadian Indonesia
Indonesia memiliki lebih dari 220 juta penduduk yang memiliki beragam budaya, suku dan adat istiadat, Indonesia sebagai bagian dari Negara-negara yang ada dalam posisi benua Asia memiliki adat yang disebut adat ketimuran yang berbeda dengan adat atau budaya barat seperti Amerika atau Eropa.
Indonesia yang tergabung dari berbagai suku, contohnya Jawa, Batak, Sunda, Banjar, Dayak, Bugis, Asmat, dan lain-lain terkenal dengan keramah tamahan masyarakatnya dan tingginya rasa saling menghormati antar sesama, ini bisa dibuktikan dengan terciptanya Negara ini yang dapat menyatukan semua suku, atau missal di daerah Banjarmasin yang penduduknya bisa saling terbuka dan menerima penduduk dari suku lain antaranya jawa, bugis, batak atau suku dari Negara lain seperti Cina dan Arab yang datang melalui akulturasi budaya dulunya.
Pada tanggal 28 oktober 1928 sebelum kemerdekaan bangsa ini tercipta, semua pemuda dari beragam suku di Indonesia yang memiliki sebutan Yonk Java (jawa), Yonk Celebes (sulawesi), Yonk Borneo (Kalimantan) dan sebagainya berikar untuk menyatu dan bergabung menjadi satu kesatuan bangsa, dengan beralasan karena semuanya memiliki kesamaan budaya dalam artian satu cita-cita dan rasa saling menghormati. Peristiwa ini sering kita sebut dengan “Sumpah Pemuda”.
Personality dan culture bangsa Indonesia tentunya sangat berbeda dengan negara-negara barat, perbedaaan ini adalah karena pandangan hidup dan kebiasaan manusianya yang berbeda.
Dalam era globalisasi ini, bukan hanya perdagangan bebas saja yang utamakan dan menjadi program kerja negara-negara didunia ini namun juga kebudayaan negara-negara kuat mengekor bahkan secara langsung bisa di terima di bumi pertiwi ini, lalu bagaimana dan seperti apa kepribadian Indonesia saat ini?
Bukan berarti kepribadian negara luar itu jelek atau kepribadian kita yang bagus, namun perlu kita cermati apakah cocok atau tidak kebudayaan luar itu kita adopsi, selama ini kita seakan telah mengikuti jaman atau trend yang up to date, dalam berpakaian, dalam pemikiran, meningkatkan rasa gengsi, individualisme dan lain sebagainya yang berbau kepribadian barat.
Dalam pandangan hidup masyarakat Indonesia yang memiliki adat ketimuran, rasa toleransi, ramah, sopan santun, saling menghargai, gotong royong dan lain sebagainya selalu menjadi dasar dalam hidup bermasyarakat. Bedanya dengan kepribadian orang-orang barat, disana mereka berpikir individualis, bermasyarakat atas dasar kegunaan. Itulah pandangan mereka yang telah terbentuk sejak dari migrasinya orang inggris ke benua amerika dan sejak jaman revolusi industri.
Pemikiran ini terbentuk karena proses kehidupan mereka yang selalu berpikir logis, struggle untuk hidup, bagaimana tidak, ketika mereka berpindah dari tanah inggris ke tanah amerika banyak sekali perjuangan yang telah mereka korbankan untuk mendapat kehidupan yang layak di banding di negara pertamanya yaitu Inggris. Atau di inggris sendiri, buruh-buruh banyak yang ditelantarkan, mereka berjuang untuk hidup dan mulai untuk mementingkan diri sendiri.
Di Indonesia, itu tidak terjadi, alam yang kaya raya, subur makmur tak menjadikan masyarakatnya susah dan menderita, bahkan sikap saling memberi merupakan sebuah kewajiban, namun karena sikap inilah ternyata kolonialisme, imperialisme dapat masuk dan mengubah pandangan hidup masyarakat Indonesia, orang portugis, belanda, dan spanyol sangat berpengaruh pada perubahan jati diri bangsa ini, direct rule dan indirect rule yang ditanamkan bangsa barat, mengubah pemikiran bangsa dan masyarakat Indonesia.
Kadang kita tidak menyadari bahwa sekarang ini masyarakat Indonesia sedang menyeimbangkan gaya hidup serta menyadur pemikiran orang-orang barat dalam artian meniru bukan menjadikan referensi, jika kita bisa melihat esensi pemikiran masyarakat desa yang masih alami di Indonesia ini mungkin kita akan sadar bahwa inilah kepribadian bangsa kita yang dulu menjadi ciri khas bangsa ini yang cantik dengan adat ketimurannya.
Kembali ke masalah perubahan, dalam kepribadian, perubahan kepribadian bukan hal yang dilarang, posisi serta jati diri yang membentuk kehidupan masyarakat bangsa indonesia dari dulu kala menjadi indikator dalam memilah dan memilih mana yang bisa kita pakai, intinya cocok atau tidak cocok dengan adat kita yaitu adat ketimuran.
Menyadur isi dari bukunya Koenjtoroningrat, Pengantar Ilmu Antropologi bahwa unsure kepribadian manusia di bentuk oleh pengetahuan, perasaan dan dorongan naluri.
Pengetahuan, berhubungan dengan apa yang kita lihat, rasakan dan rabaan kita tentang sesuatu, yang masuk ke dalam otak kita serta diproses dalam akal manusia menjadi sebuah gambaran atau referensi yang tersimpan dalam pikiran. Masukan tersebut bisa dari lingkungan, pengalaman serta peristiwa yang memang kita kehendaki untuk diproses menjadi sebuah moment tertentu. Inilah yang membentuk jati diri kita secara tidak langsung dalam kurun waktu tertentu jika hasil pengetahuan ini kita terapkan.
Perasaan, adalah anugerah tuhan yang diberikan kepada manusia untuk digunakan sebagai alat penilai dalam memilih apa yang bisa kita lakukan dan hindari, mengetahui mana yang negative atau yang positif, melihat mana yang cocok atau yang tak cocok, meskipun bersifat subyektif namun sangat berguna bagi kita untuk menimbulkan sebuah keinginan.
Dorongan naluri, selain pengetahuan yang didapat melalui proses kehidupan, manusia memiliki bawaan atau gen sejak lahir. Missal naluri untuk mempertahankan hidup, naluri untuk usaha mencari makan, naluri sex, naluri untuk bergaul, berbakti dan lain sebagainya, jika naluri ini digabungkan secara seimbang dengan pengetahuan maka akan jadi wujud kepribadian.
Menyoal lebih dalam menuju kepribadian manusia tidak terlepas dari ilmu psikologi. Menurut David Cohen dari Oxford university dalam bukunya “ melesatkan otak kiri otak kanan “ teori kepribadian merupakan sebuah bidang psikologi yang telah terasimilasi ke dalam kebudayaan yang luas secara mendalam.
Ini menegaskan kita bahwa kepribadian individu atau masyarakat, sangat berpengaruh dalam lahirnya sebuah kebudayaan manusia dan mendorong terbentuknya kepribadian umum suatu bangsa. Untuk memahami jati diri bangsa ini, tak perlu seluruh masyarakat di negara ini sadar akan jati diri bangsa ini, mulailah dari diri kita sendiri, kenali kepribadian bangsa kita yang tercinta ini.
Pandai-pandailah dalam memfilter kebudayaan negara lain yang selama ini kita telan mentah-mentah, lalu kita pikirkan apakah pantas jika kebudayaan barat kita pakai dan dijadikan kepribadian baru bangsa ini serta melupakan jati diri kita sebagai orang timur yang penuh dengan rasa sopan santun.
Ingatlah dengan adat-adat ketimuran kita yang beraneka ragam namun saling menghargai dan satu visi, alangkah indahnya jika kita selalu berpegang teguh pada adat yang telah membentuk kepribadian umum bangsa ini.
Kemerdekaan dalam Kepribadian Indonesia
Kemerdekaan kata itulah yang sering kita dengar setiap memasuki bulan agustus karena pada bulan itulah bangsa ini mencapai kemerdekaannya melawan penjajahan fisik yang dilakukan oleh bangsa lain selama kurang lebih setengah abad lamanya akantetapi cobalah kita lupakan sejenak tentang apa yang telah terjadi di masa lalu sambil kita coba untuk menatap secara bersama-sama bagaimana kita sebagai warga negara yang baik untuk bergotong royong membantu pemerintah dalam mengatasi berbagai permasalahan yang ada pada bangsa ini terutama dalam hal merubah kepribadian bangsa ini dari pribadi bangsa yang terjajah menjadi bangsa yang mempunyai kepribadian yang kuat baik dimata nasional maupun internasional.
Dalam perkembangan setelah kemerdekaan bangsa ini telah berkali-kali berganti pemimpin dan juga telah mencapai perkembangan yang sangat pesat di berbagai bidang akantetapi jika kita melihat lebih mendalam perkembangan yang ada saat ini sangatlah jauh pada apa yang dicita-citakan oleh para pejuang bangsa ini sebelum kemerdekaan terutama pada kehidupan politik dan perkembangan moral-etika agama.
Dalam kehidupan politik bangsa ini seakan-akan ibarat se-ekor macan yang kehilangan taringnya karena sekalipun kita masih mempunyai sebuah kekuatan di dunia politik internasional tapi kita masih kurang mampu bahkan cenderung hanya mengikuti saja kebijakan-kebijakan yang ada dan itu tidaklah sesuai dengan apa yang diharapkan oleh para pejuang kemerdekaan bangsa ini yang sangat menginginkan bangsa ini mempunyai ideologi yang bisa menjadi roh dalam perkembangan peradapan atau dalam arti lain dapat konsisten dan berani mengambil resiko dalam membuat sebuah keputusan yang berguna untuk masa depan bangsa ini sekalipun harus bertentangan dengan kebijakan negara-negara lain di dunia hal ini sesuai dengan yang tertuang pada landasan ideologi politik kita yang bebas-aktif serta yang tertuang pada pidato presiden RI yang pertama BERDIKARI (berdikari tidak berarti mengurangi, melainkan memperluas kerjasama internasional, terutama antara semua negara yang baru merdeka.Yang ditolak oleh Berdikari adalah ketergantungan kepada imperialis, bukan kerja sama yang sama-derajat dan saling menguntungkan. Dan di dalam Rencana Ekonomi Perjoangan yang saya sampaikan bersama ini, maka Saudara-saudara dapat membaca bahwa: “Berdikari bukan saja tujuan, tetapi yang tidak kurang pentingnya harus merupakan prinsip dari cara kita mencapai tujuan itu, prinsip untuk melaksanakan Pembangunan dengan tidak menyandarkan diri kepada bantuan negara atau bangsa lain. Adalah jelas, bahwa tidak menyandarkan diri tidak berarti bahwa kita tidak mau kerja sama berdasarkan sama-derajat dan saling menguntungkan).
Dalam perkembangan moral-etika agama, bangsa ini seperti kehilangan roh dalam setiap pergerakan kehidupan bernegara dimana seharusnya moral-etika selalu ditempatkan dalam setiap perilaku dan tindakan yang akan dilakukan seperti yang tergambar dalam pancasila dan UUD 45. Kita lihat saja saat ini telah berapa banyak sikap maupun tindakan dari diri kita sendiri yang telah menyalahi moral-etika dalam berbangsa dan bernegara, sebagai gambaran berapa banyak para wakil rakyat yang diberitakan telah terjerat kasus korupsi padahal jika kita tinjau dari hasil gaji bersih para wakil rakyat itu sebenarnya mereka masih cukup untuk menghidupi keluarga mereka bahkan jika mereka sanggup menghargai apa yang telah diberikan oleh pemilik alam semesta dan segala isinya mereka masih mampu memberikan sisa dari hasil gaji yang telah mereka peroleh kepada fakir-miskin yang semakin hari semakin bertambah di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil atau dilain pihak kita tinjau bagaimana sikap generasi muda yang seharusnya sebagai tonggak awal agar mampu menjadikan kehidupan negara ini lebih maju malah terjebak pada arus kekuasaan, harta dan pola-pola pemikiran yang lebih menekankan pada bagaimana harus menyelamatkan diri sendiri dari berbagai tekanan kehidupan globalisasi dengan cara yang mengorbankan moral-etika agama.
Dalam konteks sebagai generasi muda demi mewujudkan cita-cita yang ingin dicapai oleh para pejuang sebelum kemerdekaan terutama dalam kehidupan politik dan perkembangan moral-etika bangsa agar menjadi lebih baik maka perlu dilakukan usaha pengembalian kehidupan politik dalam moral-etika dalam tujuannya sebagai usaha memperjuangkan kesejahteraan umum, memajukan masyarakat dan melaksanakan keadilan, sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai perlu penegasan kembali fungsi kritis moral-etika agama dalam mengevaluasi posisi manusia dalam sistem politik, mengaplikasikan moralitas politik sekaligus mendudukkan peran moral-etika agama secara fungsional dalam melaksanakan fungsi kritis mengendalikan kehidupan politik menuju kehidupan politik yang bermoral dan manusiawi (Said Tuheley (ed.), 2003). Jika upaya tersebut berhasil dilakukan maka operasionalisasi agama sebagai sistem keyakinan yang dapat menjadi bagian atau inti dari sistem-sistem nilai yang ada dalam masyarakat bersangkutan dan menjadi pendorong, penggerak serta pengontrol untuk anggota-anggotanya untuk tetap berjalan sesuai dengan ajaran-ajaran agamanya agar menjadi kepribadian dalam berbangsa dan bernegara.
Dengan ini kita sadar, betapa pentingnya membangkitkan kembali dan menerapkan moral-etika agama di ranah politik Indonesia dengan segala dinamika dan kompleksitas permasalahannya agar menjadi bangsa yang mempunyai kepribadian yang kuat baik dimata nasional maupun internasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar